Daerah Dengan Nilai Toleransi tinggi yang sebenarnya

Minahasa


Image


Kabupaten Minahasa merupakan salah satu kabupaten tertua yang ada di Provinsi Sulawesi Utara yang beribukota Tondano. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh BPS, Kabupaten Minahasa memiliki luas 1.188,67 Km² atau 7,89% dari luas Provinsi Sulawesi Utara.

Berdasarkan data statistik tahun 2020, jumlah populasi dari kabupaten Minahasa berjumlah 347.290 orang.

Penduduk kabupaten Minahasa rata - rata menganut agama Kristen Protestan 85,14%, Katholik 8,26%, Islam 6.56%, serta lainnya 1%.

Akan tetapi nilai toleransi yang tertanam didarah orang Minahasa sudah mengakar sangat kuat. Nilai Toleransi tersebut tidak diperkenalkan pada jaman Kolonial Belanda, tapi nilai toleransi masyarakat Minahasa memang sudah ada sejak dahulu kalah.

Pada abad ke 15 ketika bangsa Spanyol pertama kali menapakkan kakinya di Wenang, menurut Pastro A. J Van Aernsbergen, Masyarakat Minahasa sudah memiliki kepercayaannya sendiri.

Akan tetapi merujuk pada data seorang ahli Arkeologi Australia Peter bellwood, masyarakat Minahasa sudah pernah melakukan kontak dengan orang dari luar. Pada Tahun 1985 Peter bellwood pernah menemukan keramik Cina dinasti Tang dari abad ke 7, disekitar danau Tondano.

Penulis Belanda H. Van Kol, juga merujuk dari sebuah cerita mengenai Tounipus, (Tou = Orang sedangkan Ipus = Ekor) di Tondano, yang maksudnya orang yang rambutnya dipintal panjang sehingga nampak seperti ekor. Cerita ini di analisis Van Kol, bahwa mereka merupakan orang dari daratan Cina yang datang kembali ke daratan Minahasa pada abad ke 13 jaman kaisar Khubilai Khan.

Apakah serta merta masyarakat Minahasa melakukan tindakan Rasis dengan mengusir mereka atau membunuh mereka, karena mereka adalah masyarakat pendatang di tanah Minahasa? Tentu saja tidak.

Dari cerita tersebut dapat lihat bahwa, masyarakat Minahasa sudah menjunjung tinggi nilai dari Toleransi karena tidak mungkin juga masyarakat dari luar Minahasa tersebut tidak memiliki kepercayaannya yang bisa saja mempengaruhi masyarakat Minahasa saat itu.

Toleransi masa kini

Dikarenakan nilai toleransi yang telah berakar sejak dulu kala dimasyarakat Minahasa, sehingga menjadikan masyarakat Minahasa diera ini sudah sangat terbiasa dengan perbedaan. Tapi yang paling menonjol adalah agama dan kepercayaan.

Ada berbagai macam agama yang dianut oleh masyarakat Minahasa saat ini selain dari 6 Agama yang diakui di Indonesia serta 1 aliran kepercayaan lokal (Agama lokal), Yaitu Yahudi, dan Bahai.

Komunitas Yahudi Dikutip dalam An Obscure History yang ditulis oleh sejarawan Rotem Kowner, orang Yahudi datang ke Indonesia awalnya ke Sumatera dan Jawa sebagai individu. pelayaran kapal-kapal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada awal 1600-an.

Catatan lain, pada abad 15, sudah ada kapal Portugis yang mengangkut orang-orang keturunan Yahudi beragama Kristen.

VOC punya banyak pegawai dan petinggi orang Yahudi. Selain lewat VOC, ada pula orang-orang Yahudi dari Inggris. Jalur lain masuk dari para pedagang India atau Mumbay yang datang dari Singapura.

Yahudi dari Belanda melewati proses kawin-mawin dengan warga lokal. Jejak pernikahan itu membekas lewat kehadiran keturunan Yahudi di beberapa wilayah, seperti Jakarta, Surabaya, dan Manado.

Pada 1930-an diperkirakan ada sekitar 5.000 orang Yahudi di Indonesia. Di Sulut perkirakan ada 500. Mayoritas Yahudi Belanda. Itu berdasarkan laporan majalah Yahudi di Indonesia, RS Israel,

Namun Bangsa Yahudi mulai menyingkir dari Indonesia di zaman Jepang. Kendati begitu, ada juga tetap menetap di Indonesia.

Saat ini, menaksir ada ribuan keturunan Yahudi di Sulawesi Utara. Namun, mereka yang menjadi penganut Yahudi hanya ratusan orang.


Image


Lain juga dengan Kehadiran agama Baha’i di Indonesia memang masih jarang terdengar oleh sebagian masyarakat di Indonesia. Meski demikian, Baha’i di Indonesia memang sudah ada dan diakui oleh Negara. Hal berdasarkan Surat Menteri Agama Nomor MA/276/2014 tentang penjelasan keberadaan Baha’i di Indonesia.

Dalam surat ini Baha’i telah diakui sebagai salah satu agama, selain 6 Agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Konghucu) dan bukan aliran dari suatu Agama.

keberadaan Baha’i di Sulut sudah ada sejak tahun 1980. Namun untuk pastinya memang masih sulit terdeteksi. Karena Baha’i yaitu orang-orang yang mengabdi dan mencintai seluruh manusia dan ingin menciptakan kesatuan dan perdamaian dunia. “Sebagaimana visi Baha’u’llah. Namun ada sekitar 8 orang penganut Baha’i,

Baha’i sebenarnya merupakan sebuah paham yang ajarannya fokus dalam hal kemanusiaan, kesatuan dan perdamaian.

Dalam kegiatan Refleksi hari Toleransi Internasional, di Markas Gusdurian Manado, salah satu anggota komunitas Baha’i Agus Basith asal Tondano, menjelaskan bahwa Baha’i itu adalah orang-orang yang ingin mengabdi kepada dunia, dan mencintai seluruh umat manusia untuk tercapainya kesatuan dan perdamaian dunia. “Jadi inti dari ajaran Baha’i ini adalah kesatuan dan perdamaian seluruh umat manusia, walau notabenenya berasal dari agama yang berbeda.


Image

Jadi jika ingin belajar bagaimana Toleransi yang sebenarnya, datang lah ke tanah Minahasa yang merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang bisa dijadikan indikator untuk menilai arti sebenarnya dari kata Toleransi tanpa ada kemunafikan.


Sumber: Berbagai Sumber

Posting Komentar

0 Komentar