Tentang Minahasa

 Minahasa


Image


Mitos, Legenda, dongeng dan Sejarah asal usul orang Minahasa.

Mitos merupakan suatu warisan bentuk cerita tertentu dari tradisi lisan yang mengisahkan dewa-dewi, manusia pertama, binatang, serta sebagainya dengan berdasarkan suatu skema logis yang terkandung di dalam mitos itu serta yang memungkinkan kita mengintegrasikan seluruh masalah yang perlu diselesaikan didalam suatu konstruksi sistematis
(Levi-Strauss)

Legenda (bahasa Latin: legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap mempunyai cerita yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "Sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya.
(Wikipedia).

Dongeng merupakan bentuk cerita tradisional atau cerita yang disampaikan secara turun-temurun dari nenek moyang, yang cenderung lebih banyak menyampaikan pesan moral.
(Berbagai Sumber).

Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.
(M.Yamin).

Ada banyak cerita2, tulisan2, lantunan syair tentang asal usul orang Minahasa yang sampai saat ini sangat bertolak belakang dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Misalnya cerita - cerita dari para tua -tua Minahasa yang mengatakan bahwa nenek moyang orang Minahasa adalah Toar dan Lumimuut serta Karema yang dianggap sebagai perwakilan Tuhan. Sehingga dapat disimpulkan juga bahwa merekalah manusia pertama ditanah Minahasa lewat bukti lisan berupa lantunan syair2 kuno dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat kuno Minahasa yang diwariskan turun temurun.
Akan tetapi sangat bertolak belakang dengan beberapa cabang bidang ilmu pengetahuan seperti arkeologi, antropologi dan sejarah, yang mengatakan bahwa nenek orang Minahasa berasal dari Yunnan, bahkan ada pula yang menyatakan bahwa orang Minahasa berasal dari Jepang, Taiwan, Maupun Filipina.

Legenda - legenda urban juga menyajikan ceritanya sendiri namun hampir mirip dengan mitos - mitos tentang orang Minahasa yang mengisahkan tentang asal usul orang Minahasa yang merupakan kesayangan dari Empung Wailan Wangko (Tuhan), sehingga ketika jaman Saminalang terjadi letusan gunung yang dahsyat serta air bah menutupi permukaan Minahasa, Karema dan Lumimuut luput dari bencana.
Kontradiksi antara kedua teori tersebut sampai saat ini menjadi polemik panjang untuk menentukan identitas asli orang Minahasa.

Pada masyarakat umum yang tidak terlalu paham dengan lingkup waktu suatu periode sejarah menganggap bahwa yang diwariskan turun temurun itu adalah jawabannya tanpa memperdulikan temuan - temuan sejarah.
Disatu sisi para akademisi serta pakar - pakar sejarah masih terus berdebat mencari jawabannya, karena masih berbeda paham.

Nenek moyang orang Minahasa dari Yunan (Salah satu propinsi di sebelah barat daya Tiongkok) sah - sah saja, karena itulah penelitian berdasarkan ilmu, tapi bukan berarti menutupi teori yang lain yang menganggap orang Minahasa berasal dari Filipina, Taiwan, atau Jepang.
Bukan berarti pula menganggap Legenda dan mitos tentang asal usul orang Minahasa harus ditiadakan karena tidak memiliki dasar yang kuat untuk dijadikan sebuah acuan.

Untuk menyambungkan setiap teori - teori ilmiah yang ada, akhirnya para sejarawan menyimpulkan suatu teori, dimana dalam kurun waktu suatu Periode prasejarah para ahli antropologi dan Arkeologi mengatakan bahwa nenek moyang orang Minahasa berasal dari Yunan dikarenakan konflik berkepanjangan serta berkurangnya sumber daya alam karena padatnya populasi wilayah tersebut sehingga terjadilah gelombang Migrasi besar manusia meninggalkan wilayah itu.
Sampai saat ini teori gelombang migrasi manusia dari daratan Yunnan tersebut menjadi acuan para akademisi.

Yunnan

Jepang

(Ada yang menetap, ada yang tetap melanjutkan perjalanan)

Taiwan

(Ada yang menetap, ada yang melanjutkan perjalanan)

Filipina

(Ada yang menetap ada yang melanjutkan perjalanan)

(Tiba ditanah Minahasa)


Peta Gelombang Migrasi 

Atau bisa dikatakan sebagai Gelombang manusia Melayu Deutero atau Melayu Muda  (Istilah yang gunakan untuk populasi yang diperkirakan datang pada "gelombang kedua" setelah "gelombang pertama" dari Melayu Proto. Populasi ini dikatakan datang pada Zaman Logam (kurang lebih 1500 SM).

Teori tersebut masih tidak menjamin bahwa Melayu Deutero adalah masyarakat asli Minahasa karena masih ada gelombang migrasi manusia pertama yaitu Melayu Proto atau Melayu Tua (istilah untuk populasi pertama dari dua gelombang migrasi yang diperkirakan memasuki wilayah nusantara).

Tetapi teori tersebut tidak serta mertah juga dapat menjamin bahwa gelombang migrasi pertama/proto melayu juga merupakan asal usul nenek moyang Minahasa.

Bahkan ada sebagian ahli dan akademisi yang memberikan teori dan menyatakan bahwa orang Minahasa sebenarnya berasal dari dinasti Han (220 - 280) melalui keturunan kaisar Liu Bei.

Meskipun Teori - teori serta referensi masih simpang siur, namun sampai saat ini masih digunakan oleh para akademisi dan ahli sejarah sebagai acuan.


Tapi bagaimana kalau muncul teori baru yang mengatakan bahwa justru orang Minahasalah yang bermigrasi ke Yunan, Filipina, Taiwan bahkan Jepang? Atau justru sebaliknya orang Han adalah anak keturunan orang Minahasa yang bermigrasi kedaratan Tiongkok kuno? Mengingat sebelum era dinasti Han telah berdiri lebih dahulu dinasti Qin.
Jelas pastinya akan menjadi polemik lain dan justru perdebatan akan semakin panjang.

Sebagai catatan, Suatu peradaban besar dan maju berawal dari kelompok dan komunitas masyarakat kecil yang berubah menjadi kelompok komunitas masyarakat besar, bukan berawal dari kelompok komunitas besar menjadi kelompok komunitas kecil.


Antara Keyakinan dan Ilmu Pengetahuan

Antara 1,3 - 1,8 juta tahun yang lalu, Homo erectus dan Homo ergaster (Manusia purba) adalah spesies yang paling awal menyebar melalui Afrika, Asia dan Eropa sebelum mereka berevolusi menjadi awal manusia modern (tribus Hominini).
Proses evolusi tidak terjadi hanya sekejap saja, tapi butuh jutaan tahun lagi, sehingga menjadi apa yang dinamakan manusia modern saat ini (Homo Sapiens) kira - kira 200.000 tahun yang lalu
Dari awal manusia keluar dari daratan afrika jutaan tahun yang lalu, dari situ pula keingintahuan manusia semakin besar, sehingga menjadikan manusia sebagai penjelajah yang handal dalam mengeksplotasi wilayah - wilayah baru, guna mencari sumber daya alam yang baru.

Apakah rentetan serta kurun waktu yang panjang manusia telah melalui proses evolusi itu tidak bertentangan dengan iman keyakinan orang Minahasa saat ini yang sebagian besar beragama Kristen dan sebagian kecil beragama Islam? Yang menganggap manusia adalah mahluk ciptaan paling mulia oleh Tuhan?
Pasti bertentangan, karena menurut ilmu pengetahuan, manusia itu berevolusi dari kera menjadi manusia moderen. Tapi menurut keyakinan dan kepercayaan baik Kristen ataupun Islam manusia berasal itu diciptkan dari debu.

Yang artinya pula menurut legenda, mitos dan dongeng2 orang Minahasa tentang asal usul orang Minahasa yang berasal dari batu, (Lihat lantunan Syair awal Zazanian ni Karema)

" Ooh Talingan nio un tenge ' minatontonai , Si Minatontonai , wanam puru ' u langit Si Zei ' kan meilengkar , wo mawia - me dungus in tana ' Si karengan nahtoume, meikolote urn batu.

Terjemahan: Wahai dengarlah kamu sekalian,Yang diturunkan dari atas langit Dia tidak dilahirkan ketika berada di tanah ini Tetapi dia ada , karena keluar dari dalam batu yang membelah.

Apakah tidak bertolak belakang dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan tentang asal usul orang Minahasa?
Yang pasti sangat bertolak belakang.

Bahkan ada beberapa akademisi yang beranggapan bahwa penyebaran agama Kristen, agar supaya bisa diterima oleh masyarakat Minahasa praKristen menanggap kisah cerita tentang kepercayaan asli orang Minahasa dan Kekristenan tentang penciptaan manusia hampir mirip.
Yang pada kenyataanya berbeda sangat jauh guna menarik hati orang Minahasa Pra Kristen menjadi Kristen.

Orang Minahasa jaman purba memiliki sistem kepercayaannya sendiri.


Penulis N. Graafland yang meneliti agama purba Minahasa, berkesimpulan bahwa agama purba Minahasa tidak dapat diletakkan di tingkat paling rendah dari konsep agama purba. Memang terlihat seperti banyak dewa - dewi atau Polytheisme (Istilah dewa dewi bagi masyarakat Minahasa adalah Opo - opo), tapi sebenarnya orang Minahasa mengenal satu nama yang bukan nama, bukan juga dewa bukan juga dewi. Dia yang menyebutkan dirinya " Aku akan ada, dan Aku ada”.

Namun, sayang sekali N. Graafland tidak menulisnya dalam bahasa Minahasa, akan tetapi menterjemahkannya dalam bahasa Belanda " Ik zal zijn , die Ik zijn zal ". Tuhan orang Minahasa yang tanpa nama itu disebut "EMPUNG WA'ILAN WANGKO", "EMPUNG RENGA - RENGAN”, “Tuhan Maha Mulia", "Maha Besar", Tuhan yang selalu mendampingi manusia dimanapun berada.

Ini menunjukkan bahwa agama purba Minahasa sebenarnya mengandung unsur Monotheisme, tetapi untuk mengatasi pengaruh dari roh jahat maka orang Minahasa menggunakan roh leluhur untuk melawan roh jahat sehingga roh leluhur mempengaruhi seluruh kehidupan dari lahir sampai meninggal.
Ketika masyarakat Minahasa mulai berubah maka hilanglah cerita mengenai agama purba Minahasa yang hanya dihafalkan oleh para Walian, pendeta agama.
Rakyat Minahasa menganut dua aliran sekaligus, yakni satu Tuhan (monoteisme) dan banyak dewa/Opo - opo (politeisme) seperti data yang diteliti penulis N. Graafland tahun 1881.


Sebagai bukti bahwa dewa-dewi orang Minahasa bukanlah berfungsi sebagai Tuhan, mari kita lihat nyayian lagu asal mula leluhur Minahasa, disebut “ Nyanyian Karema”. Setelah wanita tua Karema bertemu dengan seorang wanita muda bernama Lumimu'ut lalu tinggal bersama - sama dalam sebuah lobang gua, Karema kemudian mengajak Lumimu'ut keluar dari lobang untuk berdoa : Wo sera mondol witi Rurag wen meki rara ' ate SI EMPUNG

Terjemahan: Kemudian mereka berdua keluar dari dalam gua. karena ingin minta dikasihani TUHAN (berdoa).

Seperti kita ketahui dewa-dewi/ Opo - opo orang Minahasa ketika orang barat datang ke Minahasa, tidak pernah berubah yakni para leluhur orang Minahasa sendiri yang pernah hidup ratusan tahun lampau. Keterangan dari pater Blas Palmino tahun 1619 yang melihat bahwa orang Minahasa mengenal adanya tiga dewa langit, tiga dewa di bumi dan tiga dewa di dalam tanah. Yang hingga kini masih diingat oleh sebagian besar masyarakat Minahasa.

Dia yang memiliki kuasa tertinggi serta pencipta langit dan bumi disebut
Empung Wailan Wangko

Penguasa Langit
Karema (Tontemboan)
Toar (Tombulu)
Tontewoh (Lumimu'ut)

Permukaan Bumi
Siow Kurur (Tontemboan)
Muntu Untu (Tombulu)
Lingkan Wene ( Tontewoh)

Dalam Tanah
Topo Rundeng (Tontemboan)
Makalawang (Tombulu)
Maengkom (Tontewoh)

Empung Wa'ilan Wangko bertempat tinggal disurga yang disebut Sinayawan dalam bahasa Tontemboan dan Tombulu, Kainawa'an dalam bahasa Tontewoh.

Sedangkan surga untuk para roh leluhur disebut sesuai dengan lokasi hidup mereka di bumi: Kasendukan tepi pantai, Karondoran atas gunung tinggi.


Keadaan di surga sama dengan di bumi , banyak tumbuhan, banyak pohon yang selalu berbuah tapi terlarang untuk dipetik , di kolam - kolam banyak ikan tapi tidak lagi dapat ditangkap, dan ada rumah seperti di bumi. Semua dewa-dewi disebut Opo-opo, dan untuk Dewi Lumimu'ut khususnya dinamakan juga Si Opo nimemah in tanak artinya leluhur yang membuat bumi dapat dihuni manusia keturunannya.
Empung atau Tuhan dikenal dengan tiga sebutan Empung Wa'ilan Wangko, artinya Tuhan Maha Mulia, Maha Besar, Empung Renga - Rengan artinya Tuhan yang selalu menemani kita, Empung Timatar Un Tana ' wo Langit artinya Tuhan pencipta langit dan bumi.
Nama Dewa/Opo dalam tanah berbeda - beda, menurut bahasa Tontemboan disebut Topo Rundeng, Tombulu menyebutnya Maka Walang, dan Tontewoh menyebutnya Maengkong. Ketiganya dikatakan menjadikan babi hutan sebagai hewan peliharaan dan bila babi - babi itu lupa diberi makan maka akan menggosok - gosokkan badan pada tiang bumi di dalam tanah sehingga terjadi gempa bumi .

Antara opo langit To'ar dan opo Bumi Muntu Untu terdapat nama - nama opo yang berhubungan dengan matahari, api dan panas yakni Rarang (panas api), Kariso (alat pembuat api), Marendor (endo = matahari), Mainalo (tialo = matahari). Antara Dewi/opo Langit Lumimu'ut dan Lingkan Wene terdapat nama - nama dewi/opo padi yang merupakan kelanjutan dari opo bumi menjadi opo kesuburan, Kembuan Wene (mata air padi) , Soso'an Wene (padi mengalir) , Se'e Wene ( banyak padi) yakni opo kesuburan setelah orang Minahasa mengenal padi.


Opo Karema tidak mempunyai suami tetapi mempunyai dua orang adik perempuan yang masih gadis, yang satu bernama Maroaya, opo penyanyi Mareingdeng, satu lagi Rumintuwu, opo penari tarian Mangorai dengan memakai daun Woka jenis palma. Semua tarian dan nyayian orang Minahasa berasal dari kedua dewi ini, sedangkan opo Karema adalah pemimpin agama yang pertama orang Minahasa.
Serta masih banyak lagi opo- opo yang dikenal oleh masyarakat Minahasa purba.


Pegunungan Wulur Mahatus di Minahasa selatan disebut Tu'ur in Tanak artinya awal pembentukan masyarakat Minahasa, dan Remboken di tepi danau Tondano. disebut Puser in Tanak artinya pusat dunia.

Dari nama - nama opo langit terlihat bahwa pemimpin orang Minahasa jaman purba pernah memakai gelar “Dewa/ Opo Matahari" dengan bentuk agama politeisme (Kemungkinan agama monoteisme baru diperkenalkan bangsa Portugis - Spanyol).

Agama dan kepercayaan Masyarakat Minahasa kuno sangat mirip sekali dengan agama - agama kuno bangsa lain dibelahan bumi yang lain. Contoh periode zaman Yunani Kuno dimana menjelaskan
Mitos asal-usul" atau "mitos penciptaan" melambangkan usaha untuk menguraikan alam semesta dan menjelaskan asal mula dunia supaya dapat dipahami oleh akal manusia. Versi yang paling banyak diterima pada saat ini, meskipun merupakan suatu kisah filosofis mengenai asal usul segala sesuatu, diceritakan oleh Hesiodos, dalam karyanya Theogonia.

Dia mulai dengan Khaos, suatu entitas yang tak berbentuk dan misterius. Dari Khaos ini muncullah Gaia atau Gê (dewi bumi) serta beberapa makhluk dewata primer lainnya, di antaranya adalah Eros (Cinta), Tartaros (Perut bumi), Erebos (Kegelapan), dan Niks (Malam). Niks bercinta dengan Erebos dan melahirkan Aither (Langit atas) dan Hemera (Siang). Tanpa pasangan pria, Gaia melahirkan Uranus (dewa langit) dan Pontos (dewa laut). Uranus kemudian menjadi suami Gaia.

Ada beberapa dewa Yunani digambarkan seperti manusia, dilahirkan namun tak akan tua, kebal terhadap apapun, bisa tak terlihat, dan tiap dewa mempunyai karakteristik tersendiri. Karena itu, para dewa juga memiliki nama-nama gelar untuk tiap karakternya, yang mungkin lebih dari satu, seperti Zeus, Poseiden, Hera, Ares, Athena, Apolo, dll. Dewa-dewi ini kadang-kadang membantu manusia, dan bahkan menjalin hubungan cinta dengan manusia yang menghasilkan anak, yang merupakan setengah manusia setengah dewa. 


Perpisahan kata penyebutan antara Opo (Leluhur) dan Empung (Tuhan).
mulai menjadi kacau balau, misalnya sebutan opo dan Tuhan berbaur menjadi satu kata disebut Opo Empung. Yang paling menyulitkan adalah hilangnya batas - batas pemisah antara upacara keagamaan dan upacara adat . Pengetahuan yang tertinggal adalah bahwa upacara golongan Walian (pendeta agama suku) yang disebut Maha Walian termasuk jenis upacara agama, dan upacara golongan Tonaas (pemimpin negeri) yang disebut Tumona'as termasuk upacara adat . Tapi jenis upacara mana yang masuk Maha Walian dan mana yang Tumona'as juga ikut menjadi kabur . Dengan demikian ketika upacara agama asli berubah menjadi agama Kristen maka upacara adat ikut menghilang di Minahasa.

Kita lihat syair doa agama asli Minahasa 

"Oh Empung e Wa'ilan, Oh Empung Renga - rengan Turu'an nei lalan karondoran, wo tia'u lalan kaengkolan Oh Empung e Wa'ilan, Oh Empung Renga - rengan Kuman wo melep , piki - pikien an sakit Wo yayo - yayo mange witi si Lokon Telu katua'an , wo kalawiran"

Terjemahan: Oh Tuhan yang maha mulia , Oh Tuhan maha berada Tunjukkanlah jalan yang lurus dan jangan jalan yang berbelok . Oh Tuhan yang maha mulia, Oh Tuhan yang maha berada Makan dan minum, agar dijauhkan dari penyakit Dan sampaikanlah kepada tiga tu"a Lokon semoga diberi usia lanjut dan diberkati.

Syair doa pertama berisi permintaan perlindungan dari yang berdoa langsung kepada Tuhan, inilah doa keagamaan yang murni tanpa melalui opo opo/ Roh leluhur tapi langsung pada Tuhan.
Doa syair yang kedua meminta supaya dijauhkan dari penyakit, orang yang berdoa (manusia) minta kepada Tuhan menyuruh Roh leluhur/Opo di gunung Lokon supaya melindungi manusia.

Yang dimaksudkan dengan Lokon Telu adalah tiga puncak Gunung Lokon yakni Gunung Lokon, Tatawiran, dan Kasehe yang terletak dekat Gunung Empung.
Di bawah kaki Gunung Empung ini terdapat danau yang disebut Tambuk Lenas (Tambuk = Telaga, Lenas = Suci ), telaga yang dianggap suci (disebut Tambulinas) yang di jaman lampau merupakan pusat keagamaan Minahasa (pusat upacara agama) berbeda dengan Batu Pinawetengan yang adalah pusat upacara adat yang berhubungan dengan leluhur pertama Karema, To'ar, dan Lumimu'ut.



Jadi, pada faktanya tentang asal usul bangsa Minahasa hanya dapat diketahui melalui penelitian - penelitian, pengumpulan bukti - bukti, identifikasi yang mendalam serta pengumpulan data yang akurat, dan tidak dapat terbantahkan barulah bisa menarik satu kesimpulan.

Bukan hanya berdasarkan asumsi dan pengalaman - pengalaman semata, karena pada dasarnya, tanpa sumbangsi dari Legenda, dan Mitos serta cerita lisan turun temurun masyarakat Minahasa, pada tahun 1881 Watupinawetengan yang telah terkubur berabad abad tidak akan pernah ditemukan oleh Riedel dan Schwarz.
Atau tanpa iringan iringan lantunan doa, syair yang diwariskan turun temurun oleh Wailan, maka Gunung Soputan, Gunung Lokon, Gunung Mahawu, tidak akan pernah memiliki sebuah nama.

Sumber:
- Adat Recht Bundels - Serie “ M ” Minahasa - Celebes - XVII, Gravenhage - Martinus Nijhoff, 1919.
- Alfoersche Legenden, N . Ph . Wilken , Oegstgeest Zendings Bureau, Rotterdam, 1863.
- De Minahasa, N. Graafland,G. Kolff & Co.,Batavia, 1898.
- Pintu Gerbang Pengatahuwan itu, J.F.G. Riedel, 1862.
- Een Levensbeeld uit de Minahasa op Celebes, J.F.G. Riedel, Rotterdam, 1874
- Albala Ken G, Johnson Claudia Durst, Johnson Vernon E. (2000). "Origin of Mythology". Understanding the Odyssey. Courier Dover Publications.
- Cosziennosc Rytualu Magia w życiu społeczeństw Azji Południowo-Wschodniej, Adriana Mianeckiego, Wydawnictwo Naukowe Uniwersytetu Mikołaja Kopernika Toruń Poland, 2018.
- Sejarah dan Budaya Minahasa, J. Wenas
- Wikipedia
- Academy.edu
- Bradley, B. J. (2006). "Reconstructing Phylogenies and Phenotypes: A Molecular View of Human Evolution". Journal of Anatomy.
- Morris, Ian. Archaeology As Cultural History, 2000.
- Penulis

Picture
- SulutPos

Posting Komentar

0 Komentar